Study & Scholarships

Something You Probably Didn’t Know about IELTS

Teman-teman tahu nggak, kalau kita ambil tes IELTS dan tidak puas dengan hasilnya, kita bisa mengajukan re-mark atau penilaian ulang?

Saya baru saja membuktikan bahwa itu MUNGKIN dan BISA. 😀

Jadi ceritanya, saya bermaksud untuk mendaftar ke program S2 yang mensyaratkan minimal nilai IELTS 7,5 dengan nilai per skill minimal 7,0. Jadilah selama sebulan saya melahap habis seluruh latihan di buku IELTS 5-9 terbitan Cambridge (buku ini berisi kumpulan soal-soal IELTS yang lalu dengan kunci jawaban plus contoh esai-esai writing dengan komentar dari examiner, jadi saya sangat merekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang berminat ambil IELTS).

Pada hari-H, saya merasa sudah cukup siap dan berusaha mengerjakan seluruh skill (Writing, Listening, Reading, dan Speaking) dengan sebaik-baiknya. Pendek cerita, dua minggu kemudian hasilnya pun keluar. Dengan hati deg-degan, saya membuka website IELTS untuk mengecek nilai saya, dan hasilnya: nilai overall saya pas 7,5…… tapi nilai Writing saya 6,5.

Dengan galau dan gundah gulana (oke, dan sambil terisak), saya menelpon Bapak (yang cuman tertawa mendengar kabar tersebut) dan akhirnya kami sampai pada kesimpulan: oke, ambil tes lagi!

Kali ini, saya bertekad tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Saya berusaha mengingat-ingat kembali dan mengevaluasi what was wrong with my Writing, dan (in case you wanna know) saya pun menyimpulkan:

  1. Saya terlalu meremehkan bagian Writing. Setelah 4 tahun di Sastra Inggris  kenyang menulis esai dengan bahasa Inggris akademik, ditambah menulis skripsi juga dalam bahasa Inggris, I thought I’d had a lot of practice, so reading the model answers would be enough. I was wrong.

  2. Saya kurang banyak latihan untuk Writing. Faktanya adalah: menulis dalam bahasa Inggris untuk esai atau skripsi dan menulis untuk IELTS itu beda. Dalam tes IELTS, ada dua task: pertama, menulis esai 500 kata mengenai data dari grafik, tabel, atau peta yang diberikan, dan kedua, menulis esai argumentatif minimal 750 kata mengenai sebuah topik. Tentunya pendekatan kita pun harus berbeda.

  3. Saya kurang menyusun strategi untuk Task 1. Karena saya bukan anak sains yang sering terpapar angka-angka (*alasan*), waktu saya menghadapi tabel-tabel tersebut, saya gagap. Dengan ceroboh saya berusaha untuk melaporkan sebanyak mungkin data ke esai saya. Padahal ternyata yang mereka inginkan adalah kita dapat mengenali trend yang penting dari data dan merangkum informasi tersebut.

  4. Dalam task 2, saya menyertakan variabel yang tidak perlu. Pertanyaan waktu itu adalah: “Dalam era globalisasi ini, ada fenomena bahwa semakin banyak bahasa yang punah sedangkan di sisi lain, bahasa-bahasa tertentu mengalami peningkatan penggunaan. Do you think this is a good effect or bad effect of globalization?”

Wah, gara-gara pertanyaannya mengenai topik favorit saya, bahasa, saya dengan semangat membuka esai saya dengan ilustrasi singkat tentang fenomena globalisasi dan dampaknya pada bahasa. Saya kemudian menulis bahwa pentingnya bahasa bagi manusia, betapa bahasa adalah kekayaan budaya sehingga harus dilestarikan, in short – teori dan contoh-contoh yang saya pelajari selama kuliah.

Belakangan saya baru tersadar: they don’t need all those academic crap. They don’t even need you to sound academic or even structure the essay academically. They just want your opinion.

Simpel saja seharusnya. Contohnya bisa seperti ini: paragraf pertama 1-2 kalimat pembuka, paragraf kedua mengenai efek positif dari fenomena tersebut, paragraf ketiga efek negatifnya, paragraf terakhir adalah stance kita terhadap isu ini.

 ***

Tepat 3 minggu setelah hasil IELTS pertama saya keluar, saya mengambil tes IELTS saya yang kedua. Dan dua minggu berikutnya, hasilnya pun keluar.

Nilai overall saya naik 0,5 poin, nilai seluruh skill mengalami peningkatan (di atas 8) – tetapi nilai Writing saya masih 6,5.

Needless to say, I was shocked. Flabbergasted. Dismayed. Confused. Kali ini, saya nggak tahu apa yang salah. Dan bagaimana dengan kans saya untuk mendaftar ke program tersebut?

Taking a third test was out of the question. Masalahnya, untuk sekali tes, kita harus mengeluarkan biaya USD 195 atau 2,3 juta rupiah menurut kurs saat itu. Untuk tes yang pertama saja saya sudah cukup ngos-ngosan bayarnya. Untuk tes yang kedua, saya terpaksa “mengemis” dari orang tua. Gimana mau tes lagi?

Ternyata, IELTS menyediakan opsi lain. Kalau kita tidak puas dengan hasil kita, kita bisa mengajukan enquiry on results. Ini maksudnya semacam “protes” dan minta nilai kita dicek ulang. Sistemnya, mereka akan mengirimkan answer sheet kita ke pusat IELTS di Australia atau di Inggris untuk dinilai ulang oleh examiner senior yang sudah berpengalaman. Karena itu, biasanya yang bisa kita ajukan untuk re-mark adalah skill Writing atau Speaking, karena penilaiannya akan sangat subyektif, menurut masing-masing examiner.

Prosedur untuk mengajukan re-mark adalah:

  1. Mengunduh formulir enquiry on results yang disediakan oleh pihak penyelenggara (IALF, IDP atau sejenisnya) dan mengisi form tersebut. Kita bisa memilih skill mana yang ingin di-remark.

  2. Mengembalikan hasil asli IELTS kita bersama dengan formulir tersebut ke kantor penyelenggara tes IELTS yang kita ikuti

  3. Membayar uang deposit untuk remark sebesar 160 AUD (1,7 juta rupiah menurut kurs saat itu). Kalau kita beruntung dan nilai kita berubah menjadi lebih baik, maka uang tersebut akan di-refund. Kalau tidak, ya hangus deh…

Harus diperhatikan bahwa waktu untuk mengajukan re-mark paling lambat 6 minggu setelah tanggal tes atau 4 minggu setelah hasil tes keluar.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk gambling dan mengajukan re-mark dengan pertimbangan bahwa: 1) saya yakin bahwa untuk Writing saya yang kedua, esai-esai saya sudah lebih baik dibandingkan yang pertama (yang memang hancur) sehingga tidak masuk akal nilainya sama, 2) perbedaan nilai Writing dengan skill-skill lain terlalu njomplang sehingga tidak logis, dan 3) dua teman saya yang mengambil tes IELTS pada hari dan tempat yang sama juga mendapatkan nilai 6,5 untuk Writing, jadi saya merasa janggal. Jangan-jangan examinernya main ngasih 6,5 aja buat semua orang karena malas baca….

Anyway, proses re-mark tersebut berlangsung selama kira-kira sebulan. Dua hari yang lalu, saya mendapatkan telepon dari pihak IALF, yang menyatakan bahwa nilai re-mark saya sudah keluar dan nilai Writing saya naik dari 6,5 menjadi 7,0! *war dance saking leganya*

Kejutan manis lain adalah, ternyata kalau rata-rata nilai overall kita tidak genap ,0 atau ,5 (misalnya 6,25 atau 7,75), mereka akan membulatkan nilainya ke atas! Jadi tidak hanya uang deposito saya dikembalikan, dan nilai Writing saya akhirnya sesuai persyaratan yang diminta, nilai overall saya pun naik 0,5 :’)

Alhamdulillah and adieu for now, IELTS exams!!!